Halo, Mega di sini, dan ini adalah Small Hours edisi pertama!
Saya di sini mau cerita-cerita aja. Belajar lagi mengungkapkan isi pikiran spontan, pelan-pelan.
Libur Idulfitri berlalu lambat dan cepat. Saat berada di kampung halaman suami, semuanya terasa sepi dan lambat, dan banyak waktu untuk tidak melakukan apa-apa.
Begitu kembali ke Bandung, dua puluh empat jam terasa tidak cukup. Rapat yang dihadiri berganti-ganti dengan banyak revisi. Kepala langsung penuh padahal baru juga masuk.
Pekerjaan satu bulan dipepet dalam waktu dua minggu, mentang-mentang liburannya dua minggu (ha ha ha).
Karena liburan terjadi di tengah pekerjaan yang banyak, saya jadi keteteran. Masih capek juga karena belum benar-benar istirahat. Begitu juga dengan suami saya yang langsung tugas luar kota tanpa libur.
Mungkin karena nggak cukup istirahat, pikiran ini rasanya jadi sensitif. Jadi mudah sedih, mudah marah.
So, like a classic turn of events, saya dan suami bertengkar tentang hal yang sebenarnya bisa berlalu dengan damai.
Ketika sedang lelah, semua hal rasanya jadi berkali-kali lipat lebih sulit. Begitu juga saya (dan suami saya, mungkin). Saya marah, saya sedih, saya kecewa, tapi saya terlalu lelah untuk berargumen atau menerima efek sampingnya.
When you’re in arguments with your spouse, everything is different.
Saya cuma mau semua cepat selesai dan nggak perlu sedih lagi. Kalau nggak ada ujungnya saya cari sampai dapat.
Sedih membuat saya tidak nyaman dan bingung di mana jalan keluar. Kepala saya seakan-akan selalu butuh distraksi.
Dipendam jadi sakit kepala, tidur juga tidak bisa. Sayangnya, yang saya hadapi bukanlah proyek kerja, tapi emosi.
Kotak untuk Menyimpan Sedih
Dulu, kalau lagi berantem sama pasangan, hari saya langsung rusak. Kerja nggak bener, makan nggak bener, di tengah pekerjaan juga bisa nangis sambil curhat. Pekerjaan nggak selesai, makin runyam deh hari saya 😂
Sekarang saya masih bisa kerja, tapi masih sedih sih.
Kalau dulu saya suka langsung lari ke teman untuk cari validasi, akhir-akhir ini saya suka tanya sama ChatGPT.
(Hah, ChatGPT?)
Memang dia tidak bisa jadi pengganti teman, tapi lumayan membantu untuk mengurai isi kepala yang semrawut dengan kadar yang cukup.
Nggak emosional, nggak memihak, dan nggak bikin capek orang lain tentunya.
Kalau dilihat lagi, sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, tapi hanya butuh sedikit validasi.
ChatGPT bilang:
Jangan menolak perasaan sedih yang datang, karena dirimu juga berhak merasakan itu. Tapi perasaan itu boleh disimpan sementara agar bisa fokus untuk merasa lebih baik.
Simpan sedihmu dalam kotak.
Kamu boleh sedih, tapi setelah itu disimpan dulu, dan nanti boleh merasakannya lagi.
Mengamini kata-kata itu, saya mengatakannya keras-keras pada diri sendiri. Awalnya masih emosi--perasaan nggak dimengerti, merasa sendirian, dan merasa diabaikan bergabung jadi satu, sehingga membacanya serasa dikuatkan oleh entah siapa.
Yang menguatkan itu, sebenarnya adalah diri sendiri.
Jadi, ini hal yang saya lakukan selama saya merasa sedih:
Bersih-bersih rumah. Rumah saya lebih kinclong dari biasanya karena saya deep-clean berasa mau lebaran. Setiap kali melihat bagian yang kotor jadi bersih, rasanya ada sesuatu yang selesai. Dan itu jadi mood booster. Selesai bersih-bersih, saya jadi bangga pada diri sendiri dan melupakan rasa sedihnya.
Olahraga. Karena di rumah ada treadmill, jadi olahraga hanya lima langkah dari kamar hahaha. Setengah jam jalan cepat sambil nonton bikin saya hepi. Secara saintifik, olahraga memicu endorfin, dopamin, serotonin, dan oksitosin yang membuat bahagia; secara umum, saya senang karena menambah hal baik untuk tubuh saya.
Terkoneksi dengan teman dan piaraan. Menelepon teman, adik, dan main sama kucing.
IstIrahat. Setelah melakukan hal-hal di atas, saya lelah dan jadi bisa tidur--yah, belum bisa benar-benar nyenyak; tapi saya berusaha mengoptimalkan istirahat. Event besar makin mendekat, tapi kalau tidak istirahat, yang ada stamina malah makin menurun!
Yes, it will pass
Saat saya menuliskan email ini, semua sudah baik-baik saja. Selimut sudah hangat kembali dan tidur saya jadi nyenyak lagi tanpa harus menyibukkan diri. Saya juga udah berpelukan lagi sama suami kalo tidur, ha ha ha. Kami sudah minta maaf dan berbaikan.
Well, kalau belum beres nggak mungkin saya nulis email ini, dong.
Begitulah dunia pernikahan, kadang gemesnya pengen cium, kadang gemesnya pengen nampol.
Jadi, cerita ini saya sudahi di sini dulu. Terima kasih kalau kamu masih baca sampai sini.